Notification

×

Iklan

Iklan

Karangpara dan Semangat Membangun Wisata dari Desa

Rabu, 13 Mei 2026 | 12:50 WIB Last Updated 2026-06-16T05:49:31Z


SUKABUMI — Di kaki perbukitan Karangpara, semangat membangun desa melalui pariwisata kembali menemukan panggungnya. Masyarakat Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunung Guruh, Kabupaten Sukabumi, memadukan tradisi, kreativitas, dan gotong royong dalam gelaran Event Wisata Karangpara 2026 yang berlangsung pada 13 Mei 2026.

Melalui unggahan akun resmi Gurilapss Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, kegiatan tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas Desa Wisata Karangpara sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Mengusung filosofi Sunda, “Gunung Diurus, Cai Diaping, Lemah Ditata, Warga Waluya”, acara ini tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memuat pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian alam, penataan lingkungan, dan kesejahteraan warga.

Sejak pagi, kawasan wisata Karangpara dipenuhi beragam aktivitas. Selain seremoni pembukaan dan peluncuran Desa Wisata Karangpara, panitia menggelar lomba mewarnai untuk anak-anak, santunan bagi anak yatim, bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta lomba liwet yang menjadi representasi kekayaan kuliner masyarakat setempat.

Panggung budaya menjadi salah satu daya tarik utama. Berbagai kelompok seni dan komunitas lokal menampilkan rampak pencak silat, tari jaipong, marawis, drama lima bahasa, hingga tari kolaborasi Garuda. Atraksi taekwondo dan penampilan talenta muda daerah turut melengkapi kemeriahan acara.

Di tengah geliat sektor pariwisata yang terus berkembang, penyelenggaraan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa desa tidak hanya berperan sebagai objek wisata, melainkan juga sebagai pelaku utama dalam proses pembangunan destinasi. Masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sekaligus menghadirkan pengalaman wisata yang berakar pada nilai-nilai lokal.

Panitia Event Wisata Karangpara 2026 menilai kegiatan itu sebagai ruang kolaborasi lintas unsur masyarakat untuk memperkuat sektor pariwisata desa.

“Event Wisata Karangpara 2026 tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana memperkuat kebersamaan, melestarikan budaya lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan UMKM dan potensi desa wisata,” ujar panitia.

Keterlibatan pelaku UMKM dalam bazar yang digelar sepanjang acara menjadi salah satu indikator bagaimana sektor pariwisata dapat menghadirkan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Produk kuliner, kerajinan, hingga hasil usaha rumahan mendapat ruang promosi yang lebih luas melalui kunjungan wisatawan dan masyarakat yang hadir.

Pada saat yang sama, berbagai pertunjukan seni yang ditampilkan memperlihatkan upaya masyarakat dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Budaya tidak hanya dipertontonkan sebagai atraksi, melainkan menjadi bagian dari identitas yang terus diwariskan kepada generasi muda.

Semangat tersebut sejalan dengan visi pembangunan daerah yang dirumuskan dalam Sukabumi Mubarokah, yakni mewujudkan daerah yang maju, unggul, berbudaya, dan berkah. Pengembangan desa wisata dipandang sebagai salah satu instrumen untuk menghubungkan pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Melalui semangat Gunung Diurus, Cai Diaping, Lemah Ditata, Warga Waluya, kami ingin menghadirkan pariwisata yang tumbuh bersama masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga,” kata panitia.

Bagi Karangpara, gelaran ini bukan sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi penanda bahwa pembangunan pariwisata berbasis masyarakat dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan penguatan ekonomi lokal. Dari sebuah desa di kaki perbukitan Sukabumi, pesan tentang pentingnya tumbuh bersama kembali disuarakan.**

×
Berita Terbaru Update