SUKABUMI — Sekitar 100 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Panti Sosial Aura Welas Asih, Jalan Pelita, Cipatuguran, RT.05/RW.06, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Senin (17/8/2026).
Di bawah langit cerah, suasana pelataran panti yang biasanya dipenuhi aktivitas mendadak berubah khidmat. Para peserta berdiri rapi mengikuti garis pembatas di lapangan.
Kelompok perempuan mengenakan kaus merah muda, sementara para peserta laki-laki berbaris di sisi lainnya. Di tengah prosesi, Sang Merah Putih dikibarkan perlahan hingga ke pucuk tiang, diiringi lagu kebangsaan yang dinyanyikan dengan penuh penghormatan.
Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Panti Aura Welas Asih, Leni Nurmayunita, mengatakan upacara kemerdekaan bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurut dia, momentum tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan rasa percaya diri, martabat, dan rasa memiliki terhadap bangsa dan negara bagi para warga binaan.
"Bagi kami di Panti Aura Welas Asih, upacara kemerdekaan ini bukan sekadar seremonial tahunan. Ini adalah momen untuk mengembalikan harga diri dan rasa memiliki tanah air bagi warga binaan. Mereka yang kerap terpinggirkan dan dianggap kehilangan akal, hari ini membuktikan bahwa rasa cinta pada Merah Putih dan rasa hormat kepada bangsa ini tetap hidup di dalam jiwa mereka," ungkap Leni.
Jadi Bagian Terapi Sosial dan Rehabilitasi Mental
Leni menjelaskan, kegiatan baris-berbaris dan upacara bendera memiliki peran dalam proses terapi sosial serta rehabilitasi mental para warga binaan.
Melalui kegiatan tersebut, peserta dilatih untuk berkonsentrasi, mengikuti instruksi, membangun kedisiplinan, serta berinteraksi bersama dalam lingkungan sosial.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari terapi sosial dan rehabilitasi mental melalui baris-berbaris dan upacara bendera. Mereka dilatih untuk fokus, disiplin, berinteraksi secara komunal, serta merasakan kembali keteraturan sosial. Ketika mereka mampu berdiri tegak dan mengikuti instruksi dengan tertib, itu adalah langkah besar dalam proses pemulihan mereka," tuturnya.
Menurut Leni, kemampuan para peserta untuk mengikuti rangkaian upacara dengan tertib menjadi bagian penting dalam proses membangun kembali keteraturan dan kepercayaan diri.
Selain upacara bendera, Panti Aura Welas Asih juga menggelar berbagai perlombaan khas perayaan 17 Agustus. Sejumlah kegiatan, termasuk lomba makan kerupuk, telah dilaksanakan sejak 10 Agustus 2026.
Suasana Khidmat Berubah Jadi Penuh Kegembiraan
Usai pengibaran bendera selesai, suasana khidmat di lapangan perlahan berubah menjadi penuh kegembiraan.
Para petugas upacara, pembina, dan relawan yang mengenakan seragam putih berkumpul di tengah lapangan. Mereka membentuk lingkaran besar, menumpuk tangan bersama, kemudian bersorak dan bertepuk tangan merayakan keberhasilan pelaksanaan upacara.
Bagi para warga binaan, momen tersebut bukan hanya tentang memperingati kemerdekaan, tetapi juga kesempatan untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan bersama dan merasakan kebersamaan di lingkungan sosial.
Pesan untuk Hapus Stigma terhadap ODGJ
Leni berharap kegiatan tersebut turut mengubah cara pandang masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa maupun penyandang disabilitas psikososial.
Ia menilai, tantangan yang dihadapi para warga binaan tidak berhenti pada proses perawatan dan rehabilitasi. Stigma sosial dari lingkungan juga menjadi persoalan yang perlu diatasi bersama.
"Kemerdekaan sejati adalah ketika mereka tidak lagi dipandang sebelah mata atau dijauhi dengan stigma negatif. Kami ingin mengetuk hati keluarga dan masyarakat luas bahwa dengan kasih sayang, kesabaran, dan perawatan yang tepat, mereka memiliki peluang besar untuk pulih dan kembali berdaya di tengah lingkungan sosial," pungkas Leni.
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Panti Aura Welas Asih pun menjadi pengingat bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui upacara dan perlombaan. Lebih dari itu, kemerdekaan juga menyangkut kesempatan setiap orang untuk memperoleh penghormatan, diterima di tengah masyarakat, dan memiliki ruang untuk kembali berdaya.**
