Kompetisi yang berlangsung selama tiga hari ini digelar bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi ke-156.
Tak hanya diramaikan peselancar dari berbagai daerah di Indonesia, ajang tersebut juga menarik perhatian atlet mancanegara. Peserta datang dari Jepang, Australia, Amerika Serikat, Jerman, Austria, Meksiko, Spanyol, Inggris, Taiwan, Uruguay, Prancis, hingga Selandia Baru.
Para surfer bertanding dalam lima divisi, yakni Open Pro, Master Expatriate, Longboard, U-16, dan Women.
Cimaja Jadi Magnet Peselancar Mancanegara
Ketua Panitia Cimaja Boardriders Surf Competition Open Pro 2026, Iman Noel Hakim, mengatakan kompetisi tersebut telah berkembang menjadi agenda tahunan sekaligus bagian dari perayaan ulang tahun komunitas Cimaja Boardriders.
Menurutnya, penyelenggaraan pada Agustus juga memiliki alasan tersendiri. Kondisi ombak dan tingginya kunjungan wisatawan membuat bulan tersebut menjadi momentum yang tepat untuk menggelar kompetisi berskala internasional.
“Di bulan Agustus ombak Cimaja sedang bagus, wisatawan dan peselancar pun membludak. Momennya sangat pas,” ujar Iman.
Karakter ombak Cimaja menjadi salah satu kekuatan utama kawasan tersebut. Gelombang relatif konsisten bahkan ketika memasuki musim hujan, sehingga memberikan kondisi yang mendukung bagi para peselancar.
Status internasional kompetisi turut diperkuat dengan keterlibatan juri bersertifikasi internasional, penyediaan trofi, serta hadiah uang yang didukung sponsor dan pemerintah.
Tak Sekadar Kompetisi Surfing
Kemeriahan Cimaja Open Pro 2026 tidak hanya terpusat di arena surfing. Rangkaian kegiatan juga diperluas melalui Fun Run 6K Citepus-Cimaja, hasil kolaborasi Cimaja Boardriders dengan Kokojoran.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kawasan pesisir Sukabumi memiliki potensi untuk mengembangkan berbagai aktivitas wisata berbasis olahraga sekaligus memperkuat daya tarik destinasi bagi wisatawan.
Wakil Bupati Sukabumi Andreas menilai Pantai Cimaja memiliki keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah.
Menurutnya, popularitas ombak Cimaja yang telah dikenal hingga mancanegara harus menjadi modal penting untuk mendorong kawasan tersebut sebagai destinasi wisata kelas dunia.
“Pantai Cimaja ini salah satu destinasi yang belum tentu dimiliki daerah lain. Ombaknya sudah dikenal hingga mancanegara. Ini harus kita dorong menjadi destinasi wisata kelas dunia,” tegas Andreas.
Pengembangan Cimaja Masih Hadapi Tantangan
Di balik potensi besar tersebut, pengembangan kawasan Cimaja masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya berkaitan dengan status lahan yang sebagian merupakan milik pribadi.
Pemerintah Kabupaten Sukabumi membuka peluang kolaborasi dengan sponsor maupun pihak swasta untuk mendukung penataan kawasan dan pembangunan fasilitas pendukung pariwisata.
Langkah tersebut dinilai penting agar potensi surfing tidak berhenti sebagai agenda kompetisi tahunan, tetapi berkembang menjadi ekosistem pariwisata yang mampu memberikan manfaat ekonomi lebih luas bagi masyarakat.
Andreas menegaskan, potensi wisata surfing Sukabumi juga tidak hanya berada di Cimaja. Kawasan Ujung Genteng dan sejumlah titik lain di sepanjang garis pantai Sukabumi yang membentang sekitar 117 kilometer juga memiliki peluang untuk dikembangkan.
Cimaja dan Masa Depan Pariwisata Sukabumi
Kehadiran peselancar dari berbagai negara dalam Cimaja Boardriders Surf Competition Open Pro 2026 menjadi bukti bahwa nama Cimaja telah memiliki daya tarik di tingkat internasional.
Jika dikembangkan secara konsisten dengan dukungan masyarakat, pemerintah, sponsor, dan sektor swasta, kompetisi surfing dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan promosi wisata Sukabumi.
Cimaja Open Pro 2026 pun bukan sekadar pertandingan untuk memperebutkan gelar juara. Ajang ini menjadi panggung yang memperlihatkan potensi pesisir Sukabumi kepada dunia sekaligus menegaskan ambisi daerah tersebut untuk naik kelas sebagai destinasi surfing dan pariwisata berkelas dunia.**

