Notification

×

Iklan

Iklan

Jalan Prana Sukabumi Retak Sehari Setelah Dibuka, GMNI Desak Audit Proyek Rp2,17 Miliar

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:48 WIB Last Updated 2026-08-30T15:48:29Z
lokasi Jalan Prana, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi

SUKABUMI — Bola panas proyek betonisasi Jalan Prana, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, terus bergulir. Baru sehari dibuka untuk masyarakat, jalan yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp2,17 miliar itu justru dilaporkan sudah menunjukkan retakan di sejumlah titik.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan proyek infrastruktur yang dibiayai uang rakyat. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sukabumi Raya pun mendesak Pemerintah Kota Sukabumi tidak terburu-buru menyelesaikan persoalan hanya dengan memperbaiki permukaan jalan.

GMNI meminta pemerintah melakukan audit teknis secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab munculnya retakan pada jalan yang relatif baru selesai dikerjakan.

Ketua DPC GMNI Sukabumi Raya, Aris Gunawan, menilai munculnya retakan harus menjadi pintu masuk untuk mengevaluasi seluruh proses pembangunan, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan proyek.

“Jangan hanya menambal retakannya. Yang harus dicari adalah kenapa jalan yang baru dibuka untuk masyarakat sudah retak,” ungkap Aris, Senin (24/8).

GMNI Soroti Mutu Beton hingga Kondisi Tanah Dasar

Menurut Aris, audit teknis tidak cukup hanya memeriksa kondisi permukaan jalan. Pemeriksaan harus mencakup berbagai aspek yang menentukan kualitas dan ketahanan konstruksi.

Di antaranya mutu beton, kualitas material, ketebalan dan volume pekerjaan, kondisi tanah dasar, lapisan pendukung, sistem drainase, hingga proses pengawasan selama proyek berlangsung.

“Kalau kualitas beton sesuai, tunjukkan hasil uji mutunya. Kalau struktur dan tanah dasarnya sesuai, buktikan melalui pemeriksaan teknis. Begitu juga drainasenya. Semua harus dibuka berdasarkan data, bukan sekadar pernyataan,” ujarnya.

GMNI menilai besarnya anggaran proyek harus sebanding dengan kualitas infrastruktur yang dihasilkan. Dengan nilai pekerjaan sekitar Rp2,17 miliar, masyarakat dinilai berhak memperoleh jalan yang kuat, aman, dan memiliki daya tahan sesuai perencanaan serta spesifikasi pekerjaan.

“Ini uang rakyat. Publik berhak tahu apakah pekerjaan yang dibayar Rp2,17 miliar benar-benar sesuai kontrak dan spesifikasi,” cetus Aris.

Audit Dinilai Bukan Tuduhan Penyimpangan

Aris menegaskan, desakan audit tidak serta-merta merupakan tuduhan adanya penyimpangan dalam proyek Jalan Prana.

Menurut dia, pemeriksaan justru diperlukan untuk memastikan pekerjaan telah dilaksanakan sesuai perencanaan, kontrak, dan standar teknis yang ditetapkan.

“Kalau memang semuanya sesuai, pemerintah tinggal membuktikannya melalui hasil audit dan pemeriksaan teknis. Kalau ada kekurangan, segera perbaiki. Kalau ada ketidaksesuaian kontrak, pihak yang bertanggung jawab harus memenuhi kewajibannya,” tegasnya.

GMNI juga mengingatkan Pemerintah Kota Sukabumi agar tidak menunggu kerusakan menjadi semakin parah. Sebab, jika penyebab utama retakan tidak diketahui sejak awal, perbaikan berulang dikhawatirkan justru kembali membebani anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

“Jangan sampai rakyat membayar dua kali. Pertama untuk membangun, kemudian membayar lagi untuk memperbaiki pekerjaan yang seharusnya sejak awal diawasi dengan ketat,” ujarnya.

GMNI Minta Hasil Pemeriksaan Jalan Prana Dibuka ke Publik

Karena itu, GMNI Sukabumi Raya meminta audit dilakukan secara komprehensif. Pemeriksaan tersebut di antaranya mencakup kesesuaian pekerjaan dengan kontrak, spesifikasi dan mutu beton, volume pekerjaan, kualitas material, kondisi struktur dan tanah dasar, sistem drainase, hasil pengujian mutu, proses pengawasan, pembayaran berdasarkan progres, serta kewajiban penyedia jasa selama masa pemeliharaan.

Tidak hanya meminta audit, GMNI juga mendesak agar hasil pemeriksaan teknis dibuka kepada publik.

Menurut organisasi mahasiswa tersebut, transparansi penting agar masyarakat dapat mengetahui apakah proyek Jalan Prana benar-benar dikerjakan sesuai standar atau justru menyisakan persoalan yang perlu segera dibenahi.

“Jalan Prana jangan berhenti pada seremoni peresmian. Periksa kualitasnya, audit pekerjaannya, evaluasi konstruksinya, dan buka hasilnya kepada publik,” terang Aris.

Bagi GMNI Sukabumi Raya, persoalan Jalan Prana tidak semata-mata mengenai retakan pada beton. Lebih jauh, persoalan tersebut menyangkut pertanggungjawaban pemerintah dalam menggunakan anggaran publik.

“Rp2,17 miliar semestinya melahirkan jalan yang kokoh dan tahan lama, bukan jalan baru yang justru cepat menunjukkan luka,” tukasnya.**
×
Berita Terbaru Update