Notification

×

Iklan

Iklan

Eskalasi Memperebutkan 330 Milyar Barel Cadangan Minyak Venezuela

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:03 WIB Last Updated 2026-01-08T02:03:29Z

PASUNDAN POST | JAKARTA — Setelah penangkapan dramatis Presiden Venezuela Nicolás Maduro, AS kini berada pada posisi untuk memberikan pengaruh signifikan terhadap masa depan cadangan minyak terbesar di dunia.

Venezuela, sebuah negara yang hampir dua kali lebih besar dari California, memiliki kekayaan yang luar biasa.

Dengan cadangan minyak terbukti lebih dari 300 miliar barel, Venezuela memiliki cadangan minyak yang lebih besar daripada negara-negara penghasil energi besar seperti Arab Saudi, Iran, dan Kuwait.

Negara Amerika Latin ini diperkirakan memiliki cadangan minyak sebesar 300 miliar barel—sekitar 20% dari pasokan global dan hampir empat kali lipat dari cadangan AS.

Namun, sebagian besar minyak tersebut sulit dan mahal untuk diproduksi.

Cadangan minyak Venezuela didominasi oleh minyak mentah berat dan ekstra berat yang membutuhkan peralatan khusus, perawatan terus-menerus, dan kapasitas penyulingan tingkat lanjut, yang sebagian besar telah memburuk setelah bertahun-tahun kurangnya investasi, sanksi AS, dan ketidakstabilan politik.

Dinamika serupa telah terjadi di tempat-tempat seperti Iran dan Libya, di mana kekacauan, kesulitan keuangan, dan infrastruktur yang runtuh telah menyebabkan cadangan yang sangat besar terkunci di bawah tanah.

Pada akhir pekan lalu, Presiden Donald Trump mengatakan ia akan berupaya menghidupkan kembali komoditas yang pernah menonjol itu dengan memobilisasi investasi dari perusahaan-perusahaan energi besar AS.

"Kita akan meminta perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat untuk masuk, menginvestasikan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, dan mulai menghasilkan uang bagi negara," kata Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago.

Hari ini, Kamis (8/1) CNA melaporkan bahw Rusia telah mengerahkan Kapal Selam guna mengawal Tanker Minyak Venezuela.

Sebelumnya, pada awal Januari 2026, ketegangan geopolitik di Karibia meningkat tajam setelah Amerika Serikat melalui US Coast Guard berupaya menyita sebuah kapal tanker minyak yang terkait Venezuela. Kapal tersebut sebelumnya dikenal sebagai Bella 1.

Sebagai respons, Rusia dilaporkan mengirimkan kapal selam dan aset laut lainnya untuk mengawal tanker tersebut di dekat perairan Venezuela. Langkah ini memicu konfrontasi langsung antara Washington dan Moskow, memperlihatkan eskalasi baru dalam perebutan pengaruh energi dan keamanan di kawasan.

Fakta Utama

- Tanggal: 6–7 Januari 2026.

- Kapal Tanker: Bella 1 (sekarang berganti nama menjadi Marinera), dikaitkan dengan jaringan “dark fleet” Venezuela.

- Lokasi: Dekat perairan Venezuela, awal Januari 2026.

- AS: US Coast Guard berupaya melakukan penyitaan.

- Rusia: Mengirim kapal selam dan aset laut untuk mengawal tanker.

Konvoi militer Rusia untuk mengawal tanker minyak Venezuela setelah upaya penyitaan AS memperlihatkan eskalasi nyata rivalitas Washington–Moskow. Peristiwa ini bukan hanya soal energi, tetapi juga simbol perebutan pengaruh geopolitik di Amerika Latin. 

Kapal tanker Bella-1, yang kemudian berganti nama menjadi Marinera dan terdaftar di bawah bendera Rusia, disita. Kapal ini dimiliki oleh sebuah perusahaan Turki dan berada di bawah sanksi AS karena mengangkut minyak Iran.

Kapal tanker ini juga merupakan bagian dari "armada bayangan" yang mengangkut minyak yang dikenai sanksi dari Rusia, Iran, dan Venezuela.

Sebelumnya, kapal tersebut telah menerobos "blokade" maritim AS untuk kapal tanker yang dikenai sanksi di dekat Venezuela dan menolak untuk berhenti untuk diperiksa.

Pengejaran dan pengawalan militer Rusia

Selama pengejaran, kapal tanker tersebut dikawal oleh kapal selam Rusia dan sebuah kapal perang. Penjaga Pantai AS menahan diri untuk tidak mengambil tindakan aktif sampai menerima persetujuan dari Gedung Putih tetapi siap untuk melakukan penyitaan paksa.(Rasyid Munandar)

Foto Dok: @Irna
×
Berita Terbaru Update