SUKABUMI — Selama tiga tahun terakhir, Meti Ariyanti (43) bersama dua anaknya menempati sebuah bangunan bekas musala di Kampung Sawahbera, Kelurahan Dayeuhluhur, Kota Sukabumi. Bangunan yang berdampingan dengan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) itu menjadi tempat tinggal sementara setelah ia kehilangan tempat bernaung akibat persoalan rumah tangga dan keterbatasan ekonomi.
Bagi Meti, bangunan sederhana tersebut bukanlah pilihan, melainkan satu-satunya tempat yang dapat melindungi dirinya dan anak-anaknya dari hidup tanpa atap. Ia mengaku terpaksa tinggal di sana setelah berpisah dari suaminya yang disebut tidak lagi memberikan nafkah maupun tanggung jawab terhadap keluarga.
Selain menghadapi tekanan ekonomi, Meti juga mengaku pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Berbagai upaya hukum telah ditempuh, mulai dari melapor kepada pihak berwenang hingga menjalani visum. Namun, menurut pengakuannya, proses tersebut tidak membuahkan penyelesaian yang diharapkan.
"Ya karena suaminya kurang tanggung jawab. Dulu sempat KDRT. Sudah laporan ke sana-sini sampai divisum, cuma enggak ada respons. Akhirnya diam di sini," ujar Meti, Rabu (22/7/2026).
Bangunan yang kini ditempatinya memiliki ruang terbatas. Di bagian samping berdiri deretan bilik MCK yang masih digunakan warga, sementara lorong sempit menjadi tempat aktivitas sehari-hari keluarga kecil itu. Jemuran pakaian memenuhi sebagian area, memperlihatkan keterbatasan ruang yang harus mereka hadapi setiap hari.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Meti mengandalkan pekerjaan serabutan. Ia membantu warga sekitar apabila ada yang membutuhkan tenaganya. Ketika tidak ada pekerjaan, penghasilannya terhenti sehingga kebutuhan sehari-hari kerap dipenuhi dengan berutang kepada kerabat atau tetangga.
Meski demikian, ia mengaku masih menerima sejumlah bantuan sosial pemerintah, antara lain Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), bantuan sembako, serta layanan kesehatan melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Dari tiga anaknya, anak sulung kini tinggal bersama kerabat. Sementara itu, dua anak lainnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan berusia balita tetap tinggal bersamanya di bekas musala tersebut.
Harapan Meti tidak muluk. Ia hanya menginginkan tempat tinggal yang aman dan layak dihuni bagi dirinya serta anak-anaknya.
"Yang penting enggak bocor, bisa ditempati dengan layak. Harapan punya rumah layak pasti ada, tapi melihat keadaan sekarang rasanya sulit. Kerja juga cuma kalau ada yang nyuruh," katanya.
Kisah Meti menjadi perhatian publik setelah beredar luas di media sosial. Dalam sejumlah unggahan, muncul narasi yang menyebut ia tinggal di dalam toilet umum. Namun, Pemerintah Kelurahan Dayeuhluhur membantah informasi tersebut.
Lurah Dayeuhluhur, Supardi, menegaskan bahwa bangunan yang ditempati Meti bukanlah toilet, melainkan bekas musala yang berada dalam satu kompleks dengan fasilitas MCK.
"Kami tidak sependapat dengan narasi yang menyebut Bu Meti tinggal di WC. Faktanya, bangunan itu dulunya musala. Memang letaknya berdampingan dengan MCK sehingga menimbulkan persepsi seperti itu," ujar Supardi.
Menurut dia, keberadaan Meti di bangunan tersebut merupakan bentuk kepedulian warga setempat. Saat itu, Meti tidak memiliki rumah maupun kemampuan menyewa kontrakan, sehingga pengurus RT, RW, dan masyarakat berinisiatif menyediakan tempat tinggal sementara agar ia tidak terlantar.
"Kami bersama warga berupaya memanusiakan beliau. Daripada hidup di jalan, akhirnya disepakati menempati bangunan itu tanpa harus terbebani biaya kontrakan," kata Supardi.
Setelah persoalan tersebut menjadi perhatian publik, pemerintah kelurahan bersama pengurus lingkungan dan masyarakat segera menyiapkan solusi permanen. Meti direncanakan dipindahkan ke bangunan lain yang dinilai lebih layak.
Bangunan tersebut berada di kawasan dekat Vila Cantik dan sebelumnya direncanakan sebagai pos kegiatan remaja melalui Program Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2RW). Berdasarkan kesepakatan bersama, bangunan itu akan dialihkan untuk menjadi tempat tinggal Meti. Warga juga bergotong royong menambah ruang agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga tersebut.
"Alhamdulillah, sudah ada solusi. Bu Meti akan dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Bangunan itu akan ditambah ruangannya melalui swadaya masyarakat berdasarkan kesepakatan RT dan RW," ujar Supardi.
Kisah Meti memperlihatkan bagaimana kerentanan ekonomi, dampak kekerasan dalam rumah tangga, dan keterbatasan akses terhadap hunian layak dapat saling berkelindan. Di sisi lain, gotong royong warga menjadi penyangga terakhir ketika perlindungan sosial belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat yang berada dalam situasi rentan.
Rencana pemindahan Meti ke hunian yang lebih layak menjadi harapan baru, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi anak-anaknya yang selama ini tumbuh dalam keterbatasan ruang dan kepastian hidup.**
