Notification

×

Iklan

Iklan

Kekeringan Meteorologis Mengancam Sejumlah Wilayah Jawa Barat

Kamis, 13 Agustus 2026 | 16:40 WIB Last Updated 2026-08-13T10:42:37Z
Gbr. Iustrasi

SUKABUMI — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis informasi potensi kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Jawa Barat untuk periode 11–20 Agustus 2026. Kabupaten Sukabumi menjadi salah satu daerah yang masuk dalam kategori Awas.

Berdasarkan peta potensi kekeringan yang dirilis BMKG, sejumlah wilayah Jawa Barat berada dalam level kewaspadaan berbeda. Kondisi tersebut menjadi perhatian seiring berlangsungnya musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kekurangan air bersih, kekeringan lahan pertanian, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Wilayah yang masuk kategori Siaga meliputi Kabupaten Bogor, Kabupaten Purwakarta, Kota Bandung, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, dan Kota Banjar.

Sementara itu, kategori Awas mencakup wilayah yang lebih luas, yakni Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Garut, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kota Bekasi, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Subang, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Sumedang.

Adapun beberapa wilayah tidak masuk dalam peta potensi kekeringan tersebut. Daerah itu antara lain Kota Bogor, Kota Depok, Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, Kota Cirebon, dan Pangandaran.

BMKG Ingatkan Risiko Krisis Air hingga Kebakaran

BMKG mengimbau masyarakat di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah dampak musim kemarau.

Beberapa dampak yang perlu diantisipasi antara lain krisis air bersih, kekeringan di sektor pertanian, serta potensi kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi tersebut juga mulai dirasakan masyarakat di Kabupaten Sukabumi. Kekeringan yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir telah menyebabkan sebagian warga mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

757 KK di Nagrak Terdampak Kekeringan

Di Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, sebanyak 757 kepala keluarga (KK) dilaporkan terdampak kekeringan.

Kekurangan air bersih mulai dirasakan warga sejak awal Juli 2026. Menyikapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi turun langsung menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak.

Sebanyak 25.000 liter air bersih telah disalurkan secara bertahap ke sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan air.

Bantuan tersebut menjadi salah satu langkah penanganan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di tengah musim kemarau yang masih berlangsung.

Puncak Kemarau Diprakirakan Terjadi pada Agustus 2026

Dalam rilis terbarunya, BMKG juga memprakirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026. Namun, waktu puncak kemarau tidak berlangsung serentak di seluruh wilayah Indonesia karena adanya perbedaan Zona Musim (ZOM).

Data BMKG menunjukkan sekitar 48,81 persen wilayah diprakirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus.

Sementara itu, sekitar 12,26 persen wilayah telah mengalami puncak kemarau lebih dahulu pada Juli. Adapun sekitar 25,41 persen wilayah lainnya diprakirakan baru memasuki puncak kemarau pada September.

Perbedaan waktu puncak kemarau tersebut membuat kondisi kekeringan di setiap daerah dapat berbeda. Karena itu, masyarakat di wilayah yang masuk kategori Siaga maupun Awas perlu mengantisipasi kemungkinan berlanjutnya keterbatasan air bersih selama musim kemarau.

Khusus Kabupaten Sukabumi yang masuk kategori Awas, kewaspadaan perlu ditingkatkan, terutama di wilayah yang mulai mengalami kekurangan air bersih seperti Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak.

Pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat langkah mitigasi, termasuk pengelolaan ketersediaan air serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan selama periode kemarau. **
×
Berita Terbaru Update